Ekskavator Tenggelam Saat Mengeruk Pasir di DAS Sungai Pedindang Pangkalan Baru, Bukti Diperkuat dari Informasi Warga dan Invetigasi Lapangan
19 JANUARI 2026 – Kasus galian pasir (galian C) ilegal yang menimbulkan tenggelamnya ekskavator milik pelaku yang dikenal dengan julukan "Bos Beruang" di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Pedindang, Desa Pedindang, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah, mengungkap dugaan upaya sistematis untuk menghilangkan jejak aktivitas ilegal.
Alat berat yang terlihat tenggelam sebagian di tengah aliran pada jum'at (17/1/2026) sekitar pukul 15.00 WIB kemudian menjadi sasaran upaya pengangkatan pada malam hari yang, yang bukan hanya untuk menyelamatkan alat berat tetapi juga diduga sebagai langkah untuk menghindari pemberitaan dan menyembunyikan bukti pelanggaran hukum.
EKSKAVATOR TENGGELAM SAAT MELAKSANAKAN PENGGALIAN ILEGAL
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal oleh tim gabungan Kepolisian Resort Bangka Tengah dan Gugus Tugas Penanganan Galian C Ilegal, ekskavator warna biru merek Kobelco seri SK200 tersebut tengah melakukan aktivitas pengambilan pasir tanpa izin resmi ketika mengalami masalah yang menyebabkan tenggelam. Bukti trek roda yang terlihat jelas di dasar sungai menunjukkan bahwa alat berat sedang mengeruk pasir pada area yang tidak stabil, hingga akhirnya bagian badan mesin terendam air dan tidak dapat beroperasi lagi.
"Kondisi dasar sungai di lokasi kejadian menunjukkan bahwa penggalian telah berlangsung cukup lama. Pasir yang dikeluarkan tidak hanya mengubah bentuk aliran sungai, tetapi juga menyebabkan penurunan kualitas air akibat lumpur yang terangkat ke permukaan," jelas sumber kepada media ini
DUGAAN UPAYA HILANGKAN JEJAK UNTUK HINDARI PEMBERITAKAN
Informasi dari beberapa saksi warga mengungkapkan bahwa setelah ekskavator tenggelam, sekitar pukul 17.30 WIB terdapat kelompok orang yang membawa alat bantu mencoba untuk menggerakkan atau menutupi lokasi kejadian. Aktivitas tersebut dihentikan setelah adanya laporan dari warga dan kedatangan tim media yang mendokumentasikan kondisi lokasi.
Setelah itu, dugaan upaya penghilangan jejak dilakukan pada malam hari dengan rencana pengangkatan alat berat yang disiapkan secara tergesa-gesa.
"Kami menduga bahwa pengangkatan pada malam hari bukan hanya untuk menyelamatkan alat berat, tetapi juga untuk menghilangkan bukti fisik seperti bekas kerukan, tumpukan pasir hasil gali, serta jejak aktivitas lainnya agar tidak menjadi bahan pemberitaan " Ungkap sumber


