*PANGKALPINANG* – Polemik dugaan pernikahan atau poliandri yang menyeret nama Direktur RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang, dr Della Rianadita, kembali memantik perhatian publik. Setelah viral diberitakan oleh jejaring media KBO Babel, akun TikTok yang mengatasnamakan Della Rianadita dan memuat sejumlah foto tidak senonoh serta video, kini tiba-tiba lenyap dari jagat media sosial.
Pantauan wartawan jejaring KBO Babel, akun tersebut masih dapat diakses sekitar pukul 08.00 WIB. Namun tak berselang lama, akun itu sudah tidak lagi ditemukan.
Belum diketahui secara pasti apakah akun tersebut dihapus langsung oleh pemiliknya atau ditutup oleh pihak platform karena pelanggaran kebijakan.
Hilangnya akun tersebut justru memunculkan spekulasi baru di tengah masyarakat. Sebab sebelumnya, unggahan di akun itu disebut-sebut memperlihatkan konten yang dinilai tidak pantas bagi seorang aparatur sipil negara (ASN), terlebih yang menjabat sebagai pimpinan rumah sakit milik pemerintah daerah.
Sebagai pejabat publik, posisi Direktur RSUD Depati Hamzah bukan sekadar jabatan administratif.
Ia merupakan representasi wajah pelayanan kesehatan pemerintah Kota Pangkalpinang.
Oleh karena itu, isu yang berkembang dinilai bukan lagi sekadar persoalan pribadi, melainkan menyangkut integritas, etika, serta marwah institusi.
Sebelumnya, Inspektorat Pemerintah Kota Pangkalpinang sempat membantah adanya dugaan perselingkuhan atau hubungan tidak wajar antara ST dan dr Della Rianadita, sebagaimana isu yang beredar usai adanya dugaan penggerebekan oleh suaminya, dr Kuncoro Bayu Aji, di salah satu ruang rawat inap RSUD Depati Hamzah beberapa waktu lalu.
Peristiwa itu sempat memicu kegaduhan di lingkungan rumah sakit dan menjadi perbincangan hangat masyarakat.
Namun, dengan muncul dan kemudian hilangnya akun TikTok tersebut, desakan publik agar pemerintah kota memberikan sikap resmi semakin menguat.
Warga menilai, polemik yang terus bergulir tanpa klarifikasi terbuka hanya akan memperkeruh suasana dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi pelayanan kesehatan.
“Sekarang tidak perlu lagi harus dilindungi oleh wali kota Pangkalpinang terhadap perilaku ASN yang telah membuat malu dan gaduh masyarakat Pangkalpinang. Sekarang dibutuhkan tindakan nyata, bukan malah membiarkan persoalan ini,” ujar Ahmad, salah satu warga Pangkalpinang.
Masyarakat meminta agar Wali Kota Pangkalpinang segera memberikan pernyataan resmi terkait dugaan pelanggaran Undang-Undang maupun kode etik ASN.
Apalagi jabatan yang diemban bukan posisi biasa, melainkan pucuk pimpinan rumah sakit daerah yang menjadi rujukan utama warga.
Secara regulasi, ASN terikat pada ketentuan disiplin dan kode etik yang mengatur perilaku, baik di dalam maupun di luar kedinasan.
Jika benar terdapat pelanggaran, publik berharap proses pemeriksaan dilakukan secara transparan dan profesional tanpa tebang pilih.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terbaru dari Pemerintah Kota Pangkalpinang maupun dari pihak yang bersangkutan terkait hilangnya akun TikTok tersebut.
Namun satu hal yang pasti, bola kini berada di tangan pemerintah kota. Di tengah derasnya arus informasi digital, sikap diam justru berpotensi memperbesar ketidakpercayaan publik. (KBO Babel)


