BELINYU, BANGKA – Geliat tambang timah ilegal jenis "user-user" di Kampung Kusam Dalam, Desa Gunung Muda, Kecamatan Belinyu, kini bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan ancaman nyata bagi kelangsungan hidup warga. Aktivitas tanpa izin yang kian liar ini tidak hanya merusak ekosistem, tetapi kini dengan kejam menggerogoti urat nadi transportasi warga hingga di ambang kehancuran.
Pantauan lapangan menunjukkan fakta memilukan: jalan aspal utama desa tersebut nyaris putus total. Abrasi galian tambang yang beroperasi persis di bibir jalan telah mengikis fondasi infrastruktur vital itu, meninggalkan ketakutan besar bagi warga yang setiap hari bergantung pada akses tersebut.
WARGA TERKEPUNG, INFRASTRUKTUR HANCUR: "MEREKA AMBIL UNTUNG, KAMI YANG DAPAT BUNTUNG"
Ketua RT Desa Gunung Muda tak lagi bisa menahan amarah dan kekecewaan mendalam yang dirasakan seluruh warganya. Menurutnya, keberanian para penambang ilegal ini sudah melampaui batas kewajaran—mereka beroperasi seenaknya tanpa sedikit pun memedulikan nasib fasilitas publik yang menjadi milik bersama.
"Masyarakat sudah lama risih dan resah. Itu jalan utama kami, nyaris putus! Kalau benar-benar putus nanti, siapa yang mau tanggung jawab? Mereka yang tambang ilegal ambil untung besar, tapi kami warga yang harus menanggung akibat fatal, kami yang dapat buntung!" ujar Ketua RT dengan nada geram yang menyayat hati.
DUGAAN 'BACK-UP' OKNUM APARAT: OKNUM TNI 'W' DISINYALIR JADI PAYUNG, KORLAP AFUY & KANCIL MENGUASAI LOKASI
Di balik "kebal hukumnya" aktivitas merusak ini, terselip dugaan keras yang membuat warga semakin geram: adanya perlindungan dari oknum aparat yang membentengi operasional tambang tersebut.
Berdasarkan informasi kredibel yang dihimpun dari tokoh masyarakat setempat, tambang liar ini disinyalir mendapatkan "back-up" kuat dari seorang oknum tentara berinisial W yang bertugas di kawasan Mantung. Keberadaan oknum ini diduga menjadi tameng utama yang membuat para penambang merasa tak tersentuh hukum.
Tak hanya itu, nama Afuy dan Kancil mencuat sebagai sosok koordinator lapangan (korlap) yang memegang kendali penuh—mulai dari mengatur teknis pekerjaan hingga "mengamankan" situasi di lokasi agar aktivitas ilegal itu tetap berjalan lancar meski kerusakan lingkungan dan infrastruktur sudah di depan mata.
MASYARAKAT DESAK TINDAK TEGAS: JANGAN TUNGGU JALAN PUTUS BARU BERTINDAK!
Hingga berita ini diturunkan, ironi masih terjadi: belum ada tindakan nyata dan tegas dari instansi terkait untuk menertibkan aktivitas yang jelas-jelas merugikan publik ini. Warga Desa Gunung Muda kini tak hanya menaruh harapan, tapi juga mengeluarkan ultimatum:
1. Polda Bangka Belitung & Polres Bangka: Segera turun tangan ke lokasi, tangkap para pelaku, dan ungkap otak di balik pengrusakan fasilitas jalan aspal yang kritis ini.
2. Denpom Pangkalpinang: Lakukan penyelidikan mendalam dan tanpa kompromi terkait keterlibatan oknum berinisial W yang diduga menjadi "payung" bagi aktivitas ilegal yang merugikan rakyat ini.
"Kami butuh tindakan tegas, bukan sekadar himbauan angin lalu! Jangan tunggu jalan ini benar-benar putus dan menelan korban baru ada pergerakan," pungkas warga setempat dengan nada mendesak.
Jika penegakan hukum masih jalan di tempat dan membiarkan ketidakadilan ini berlanjut, dikhawatirkan warga yang sudah terpojok akan mengambil langkah sendiri demi menyelamatkan akses jalan mereka yang nyaris putus itu.(Tim)
Tags:
Berita




