MENTOK, BANGKA BARAT – Keresahan mendalam menyelimuti kalangan nelayan tradisional di wilayah Kerangan dan Tembelok, Kecamatan Mentok, pada Rabu (7/1/2026). Pasalnya, area perairan yang selama ini menjadi lokasi utama mereka memasang bubu ikan diduga telah "dijarah" oleh aktivitas tambang timah inkonvensional (TI) jenis selam.
Aktivitas penambangan tersebut terpantau berlangsung secara terang-terangan pada siang hari, yang memicu kegaduhan dan protes keras dari masyarakat nelayan setempat.
Pernyataan Ketua Nelayan
Ketua nelayan setempat membenarkan adanya kegaduhan tersebut. Menurutnya, para nelayan merasa tidak lagi dihargai karena wilayah tangkap mereka diserobot tanpa izin oleh para penambang.
"Kami selaku pengurus nelayan menerima banyak laporan dari kawan-kawan di laut. Lokasi yang seharusnya steril untuk memasang bubu di Kerangan sekarang diacak-acak oleh TI selam. Ini jelas-jelas penjarahan wilayah tangkap nelayan," tegas Ketua Nelayan.
Beliau juga menambahkan bahwa para nelayan sudah cukup bersabar, namun beroperasinya ponton di siang bolong seolah menantang mata pencaharian mereka. "Kalau dibiarkan, nelayan mau makan apa? Kami minta pihak terkait jangan tutup mata," lanjutnya.
Aktivitas di Siang Bolong
Berdasarkan pantauan di lokasi perairan Kerangan dan Tembelok pada Rabu siang, terlihat tiga unit ponton TI selam sedang beroperasi tepat di titik-titik koordinat tempat nelayan meletakkan alat tangkap mereka.
Dampak yang dirasakan nelayan sangat nyata:
Kerusakan Bubu: Alat tangkap nelayan terancam rusak atau hilang akibat aktivitas penyelaman dan jangkar ponton.
Ekosistem Rusak: Lumpur hasil pembuangan tambang menutup karang, sehingga ikan tidak lagi masuk ke dalam bubu.
Potensi Konflik: Situasi di lapangan kian memanas karena nelayan merasa ruang geraknya semakin terjepit.
Desakan Penertiban Segera
Melalui Ketua Nelayan, para nelayan Kerangan dan Tembelok mendesak aparat penegak hukum (APH) serta Pemerintah Kabupaten Bangka Barat untuk segera melakukan penertiban di lokasi. Mereka berharap ada tindakan tegas untuk mengusir ketiga ponton TI selam tersebut agar wilayah tangkap mereka kembali aman.
Hingga berita ini diturunkan, aktivitas penambangan di Laut Kerangan dilaporkan masih berlangsung, sementara para nelayan terus berjaga-jaga memantau situasi di pesisir.


